Jika pelancong mendengar Indonesia, hal pertama yang pasti diketahui mereka adalah Bali. Cobalah Anda bertanya, atau minimal menonton konten Youtube, kebanyakan orang asing berkata sedemikian rupa.

Wajar saja apabila Bali sangat diingat betul, mengingat banyak sekali ragam keasyikan yang ditawarkan oleh pulau dewata itu. Mulai dari tempat wisata, kuliner khas, hingga budaya Bali itu sendiri.

Baca juga:

Berbicara tentang budaya Bali, tahukah Anda apa saja tradisi yang dimiliki Bali? Selain upacara Ngaben? Bagi Anda penikmat sejarah, budaya, atau pelancong, tidak akan kecewa jika mengetahui apa saja budaya Bali.

Sebab, bermacam budaya Bali ini memiliki keunikan dan khasnya masing-masing, yang mungkin hanya Anda rasakan pengalaman spiritualnya sekali seumur hidup. Nah, apa saja budaya Bali itu, check it out!

1. Upacara Ngaben

Jika Anda sering mendengar kata “Bali”, tentu ingatan akan budaya yang terlintas pertama kali adalah Ngaben. Apalagi bagi pelancong, Ngaben menjadi visual menarik yang patut untuk diperhatikan. Meskipun sering mendengarnya, apakah Anda tahu apa itu Ngaben?

Upacara Ngaben atau bekal/abu, adalah budaya Bali berupa pembakaran jasad yang diletakan dalam wadah. Tujuan budaya Bali ini tak lain untuk menyucikan arwah orang meninggal. Ya, pembakaran dipercaya sebagai simbol yang mengembalikan unsur-unsur kehidupan manusia. 

Upacara Ngaben di Bali
Upacara Ngaben di Bali (Sumber: Netsyber)

Pada pagi hari, jasad diletakkan dulu dalam “bade” sebelum proses pembakaran. Kemudian, “Bade” diarak dari rumah sampai ke kuburan, dengan gamelan dan nyanyian suci yang mengiringi. Di setiap persimpangan jalan menuju ke kuburan, “Bade” diputar sebanyak 3 kali agar agar arwah tidak gentayangan.  

For your information, buadaya Bali ini memiliki lima bentuk, yaitu Ngaben Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana, Swasta, Ngelungah, dan Warak Krunon. Kelimanya memiliki ciri khas dan tujuan diberlakukannya masing-masing

Misal, Ngaben Sawa Wedana; upacara ini dilakukan hanya teruntuk jenazah yang masih utuh. Sementara Ngaben Sawa Wedana, ditujukan kepada jenazah yang pernah dikubur sebelumnya. Ada pula Swasta yang dilaksanakan ketika mayat tak kunjung ditemukan. Juga, upacara Ngelungah atau Warak Krunon, yang diberlakukan khusus anak-anak dan bayi.

2. Gebug Ende Seraya

Budaya Bali yang memiliki arti perang rotan, merupakan pergelaran adu kekuatan antar dua petarung, yang dilakoni pada sasih Kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober – November. 

Gebug Ende Seraya
Gebug Ende Seraya (Sumber: tour di Bali)

Gebug Ende Seraya ini diadakan di tempat – tempat umum, yang agar berbagai pihak tertarik dan berpartisipasi dalam duel ini. Harapannya, keseriusan yang direpresentasikan melalui Budaya Bali satu ini, dapat mendatangkan hujan ke lahan yang desa Seraya yang tandus. 

3. Ritual Pengerebongan

Pengerebongan atau dalam bahasa artinya berkumpul, diadakan setiap 6 bulan sekali sesuai kalender Bali, yakni 8 hari setelah Hari Raya Kuningan, pada Minggu Pon Wuku Medangsia. 

Karena pengerebongan dipercaya waktu berkumpulnya para dewa, masyarakat tempat melakukan ini untuk menjaga hubungan manusia dengan Dewa, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam.

Bagi Anda yang berlibur ke Bali dan ingin melihat langsung Ritual Pengerebongan, Anda bisa berkunjung ke Desa Kesiman. Namun, Anda tidak bisa sembarang masuk ke ritual. Anda diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat. Terkhusus perempuan, hanya yang dalam keadaan suci sajalah yang diperbolehkan mengikuti. 

Ritual Pengerebongan

Setelah tiba di Desa Kesiman, Anda akan bertemu langsung para pemeluk Hindu di Pura Pangrebongan. Dan mungkin Anda akan kaget, jika melihat beberapa orang kerasukan selama momen-momen upacara berlangsung di wantilan. 

Apa lagi, orang-orang itu berkemungkinan besar melakukan tindakan yang ekstrem seperti melukai dada, leher, atau kepala dengan keris. Selain melakukan hal-hal tersebut, orang—orang yang kesurupan juga akan melakukan tindakan yang ekstrem. Yang anehnya, mereka tidak mengalami luka, sembari menari mengikuti alunan musik.

Nah, kalau orang-orang yang kesurupan tadi sudah sadar, berarti upacara sudah selesai, dan kemudian akan ditutup dengan persembahyangan. Roh-roh yang membersamai selama upacara pun akan kembali pada asalnya.

4. Tradisi Mepasah di Trunyan

Bagi Anda yang berlibur ke Bali  dan mengunjungi Desa Trunyan, Bali, Anda akan menemui budaya Bali yang unik bernama Mepasah. Tradisi Mepasah atau membiarkan jenazah berada di alam terbuka — dekat pohon Taru Menyan — dilakukan agar tidak tercium bau busuk dari mayat. Sebab pohon ini menyerap bau dan mengeluarkan wangi di sekitarnya, yang mana mampu menutupi bau busuk mayat.

Mepasah
Mepasah (Sumber: Kumparan)

Adapun jenazah terlebih dahulu diikutkan dalam upacara pembersihan. Selanjutnya, jenazah dimandikan dengan air hujan. Barulah jenazah — yang dibatasi dengan pagar bambu — diletakkan di permukaan tanah. 

Nah, itu dia 4 budaya Bali yang wajib Anda ketahui dan sambangi versi Travel Addict. Setelah membacanya, Anda semakin tidak sabar untuk menonton langsung atraksi budaya-budaya di atas bukan?