Emily in Paris merupakan serial terbaru dari layanan streaming paling populer pada era sekarang, tiada lain dan tiada bukan adalah Netflix. Rilis pada 2 Oktober 2020, serial ini langsung menjadi buah bibir dimana-mana. Menggandeng si cantik nan anggun Lily Collins sebagai bintang utama, serta dengan mengambil latar belakang cerita tentang budaya dan kultur Paris yang merupakan kota paling romantis di dunia, membuat serial ini sudah ditunggu-tunggu bahkan jauh sebelum tanggal peluncurannya.

Mendukung performa dari Lily Collins dan latarnya yang luar biasa, serial ini juga memiliki daya pikat lainnya yang tidak kalah penting yaitu dari segi alur cerita. Alur cerita yang ringan dibalut dengan hiruk pikuk dunia profesional dari seorang wanita karir serta romansa yang membuat penasaran tentu merupakan ide cerita yang paling diminati oleh berjuta-juta penduduk bumi. Walaupun serial atau film dengan tema komedi romantis dari kehidupan seorang pekerja kantoran pada usia 20an memang terkesan sangat klise dan formulatik, tetapi tema cerita seperti inilah yang selalu dinantikan dan ditunggu semua kalangan.

Mulai dari anak-anak, remaja, hingga pastinya bidikan utama dari produser Emily in Paris ini, yaitu para wanita yang baru akan memulai karir atau yang sudah sukses berkarir dan sedang menunggu orang isitimewa itu datang. Kesederhanaan ceritanya seakan mengalir dengan hangat ke setiap hati penonton hingga menjadi candu tersendiri bagi penonton.

Keracunan dan kecanduan menonton serial atau film dengan jenis komedi romantis memang menjadi fenomena yang terjadi secara sangat masif. Mengingat betapa mudahnya menonton dan mencerna cerita dengan tema seperti ini. Tidak perlu banyak berpikir dan merangkai petunjuk seperti menonton film berseri layaknya James Bond, atau terperas-peras hati dan pikirannya memikirkan kehilangan Mikkel dalam dimensi ruang dan waktu yang antah berantah pada serial Dark, atau yang lebih menyeramkan lagi harus dihantui dalam kefrustasian drama keluarga Crain yang meninggal satu per satu dalam The Haunting of Hill House.

Semua serial atau film diatas merupakan contoh dari kisah yang mengusung tema agak berlainan dan unik, sehinnga cerita seperti itu kurang mengundang penonton yang lebih general atau umum. Lain halnya dengan komedi romantis, ringannya jalan cerita tersebut yang mengalir secara lancar dan jernih bagai air di sungai serta memberi pesan moral yang sangat berkenaan dengan realita kehidupan,—biasanya berpesan tidak jauh-jauh dari amanah untuk sabar dan semangat dalam berkarya demi karir dan nanti pasti akan datang pangeran berkuda putih tepat pada waktunya—secara  otomatis cerita dengan tema seperti ini akan lebih mudah diterima semua kalangan dan menciptakan kecanduan tanpa disengaja atau disadari.

Karena terkadang penonton juga tidak menyadari berapa banyak serial atau film jenis ini yang sudah dikonsumsi mengingat betapa banyak dan ringkas.

Hingga terkadang penonton berpikir, kehangatan yang dirasakan ini apakah hanya bayangan dari angan-angan mereka saja? Apakah kehidupan realita di bumi ini yang terlalu jauh dari kata menarik, atau memang serial atau film komedi romantis ini kelewat mengada-ada? Apakah mungkin warga bumi yang super biasa ini, bisa merasakan apa yang dipertontonkan dalam Emily in Paris? Yuk, kita kupas tuntas segalanya tentang Emily in Paris mulai dari budaya dan kultur Paris yang mungkin benar atau mungkin salah, sampai yang bisa dimungkinkan versi realita!

Plot Cerita Emily in Paris

Emily dan Gabriel
Emily dan Gabriel
Sumber gambar: Netflix

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, serial atau film dengan tema komedi romantis atau akrab disapa rom-com ini sangatlah ringan. Emily in Paris berkisah tentang seorang wanita karir bernama Emily Cooper yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat. Emily memiliki kehidupan yang normal dan menyenangkan di Chicago bersama dengan kekasihnya, Doug. Hingga saat atasannya Madeline Wheeler tidak bisa mengambil pekerjaan di Paris karena ternyata tengah mengandung, kemudian Madeline mengutus Emily untuk menggantikannya dalam tugas ke Paris.

Dengan keterbatasan Emily dalam berbahasa Prancis, dia tetap bersemangat untuk melakukan tugas ini dengan slogannya “fake it until you make it” sehingga dia menerima dan mengambil pekerjaan ini. Jadilah kisah Emily in Paris, dan jangan lupa dengan akun Instagram Emily yang baru @emilyinparis.

Setibanya Emily di Paris, dia disambut dengan budaya dan kultur Paris yang sangat kental dan ternyata sifat dan sikap dia yang sangat Amerika justru seperti mempermainkannya. Can-do attitude dan gairah Emily dalam bekerja tetapi seakan tidak cocok dengan budaya dan kultur Paris yang dianut oleh rekan-rekan kerjanya di Savoir—marketing agensi tempat Emily diutus—yang notabene memang orang Prancis asli. Belum lagi ditambah fakta bahwa kemampuan Bahasa Prancis Emily yang jauh dari kata standart, seolah mereka tidak memiliki satu saja alasan untuk menyukai Emily si Gadis Amerika. Merasa dimusuhi oleh rekan kerjanya terlebih atasannya Sylvie, tentu tidak membuat Emily patah arang.

Disinilah petualangan Emily in Paris dimulai. Terdiri dari 10 episode dengan durasi masing-masing kurang lebih 30 menit, Emily in Paris berjalan seperti Detective Conan versi dunia marketing yang menggunakan Instagram sebagai jam biusnya. Pada setiap episodenya diwarnai dengan intrik pekerjaan Emily yang haus untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dan pantas untuk bekerja untuk Savoir, dengan memecahkan serta menelaah setiap kasus dari klien mereka. Seluruh klien disapu bersih oleh Emily mulai dari perkara parfum, mengiklankan kasur, hingga Paris Fashion Week.

Menjawab kredibilitasnya dalam pekerjaan, ternyata masalah Emily in Paris tidak serta merta berakhir begitu saja. Selama menjalani hari-harinya di Paris, Emily bertransformasi tidak hanya dalam dunia karir, tetapi terlebih dalam pertemanan dan percintaan. Awalnya, Emily yang langsung putus dari Doug karena tidak sanggup LDR, hanya memiliki seorang teman yaitu Gabriel—seorang koki tampan dan tetangga apartemennya—dan memang digambarkan dari awal secara implisit bahwa ada ketertarikan diantara mereka berdua.

Mindy Chen sahabat Emily tempat curahan hati Emily tentang budaya dan kultur Paris
Mindy Chen merupakan teman Emily dalam membicarakan budaya dan kultur Paris karena sesama pendatang
Sumber gambar: Natflix

Kemudian Emily memiliki teman baru seorang gadis berdarah Tionghoa bernama Mindy Chen dan orang Prancis asli bernama Camille yang beru diketahui belakangan ternyata kekasih Gabriel. Selain ketiga teman tersebut, kesuksesan Emily dimata klien marketingnya juga membuat Emily lambat laun memiliki teman yang lain dan banyak yang menyukai dia juga mulai dari dosen terkemuka hingga pebisnis muda kaya raya.

Keadaan menjadi bertambah kusut ketika Sylvie cemburu karena Emily seolah merebut kekasihnya, serta yang paling membuat gemas yaitu persahabatan diantara Emily dan Camille semakin erat, tetapi dilain pihak Emily dan Gabriel memiliki daya tarik menarik yang bahkan lebih kuat. Bahkan dalam Emily in Paris ini penonton seperti tidak bisa menetapkan hati apakah Tim Emily-Gabriel atau Tim Camille-Gabriel.

Camille, sahabat Emily yang asli Prancis
Keakraban Emily dan Camille
Sumber gambar: Netflix

Mengingat betapa baik hati seorang Camille sebagai sahabat Emily yang selalu membantu bahkan memberi proyek kepadanya, sehingga penonton tidak tega kalau Camille harus menjadi korban perselingkuhan remeh dari Gabriel dan Emily. Tetapi penonton juga tidak bisa memungkiri bahwa hubungan antara Gabriel dan Emily terlalu gemas dan romantis untuk tidak didukung, karena pada dasarnya Emily tidak merebut Gabriel, sebab awalnya Emily tidak mengetahui kalau Gabriel sudah ada yang punya.

Mengingat bahwa penonton tidak terlalu peduli dengan kasus marketing yang Emily tangani dengan campuran cara ala detektif dan ala selebgram—selebritas Instagram—itu, romansa antara Emily dan Gabriel merupakan daya tarik utama dalam Emily in Paris. Dalam kasus inilah, kesan rom-com yang sederhana tapi manis sangat terasa.

Pertemuan pertama yang sangat klise yaitu salah masuk kamar, lalu Gabriel yang selalu ada untuk menolong Emily mulai dari sekedar menerjemahkan perkataan Emily ke Bahasa Prancis, menyiapkan makan malam untuk Savoir, hingga menghantar jemput dalam latar Paris pada malam hari menggunakan sepeda motor, semua yang dilakukan Gabriel sukses membuat penonton kesengsem. Hubungan yang tarik dan ulur serta malu tapi mau antara Emily dan Gabriel sangat mencuri perhatian penonton.

Budaya dan Kultur Paris

Budaya dan kultur Paris memang sesuatu yang akan sulit dimengerti oleh pendatang baru seperti Emily. Dengan banyaknya aral melintang, sudah pasti Emily mengalami culture shock. Tetapi dari sekian banyak budaya dan kultur Paris yang disampaikan dalam serial ini baik yang tersurat maupun tersirat, ada yang memang cocok, ada yang sengaja digunakan untuk menunjang kekuatan cerita dan karakter, tetapi ada juga yang bahkan tidak cocok. Berikut 4 budaya dan kultur Paris dan kadar kecocokannya dengan warga Paris!

Para Lelaki yang Seksis

Dalam beberapa episode awal Emily in Paris, digambarkan secara tersurat tentang perbedaan budaya dan kultur Paris saat pertama sampai di kota tersebut dan dikisahkan juga secara tersirat seakan para lelaki Prancis khususnya Paris sangatlah seksis. Tentu ini tidak benar dan menuai kritik dari publik khususnya masyarakat Paris. Dijuluki sebagai kota paling romantis di dunia, tentu tidak berarti sama dengan genit atau hidung belang. Mengingat romantis dan hidung belang justru sangat berbanding terbalik, sehingga bisa disimpulkan bahwa seksis ini merupakan budaya yang tidak cocok dengan warga Paris.

Warga Paris Kurang Bersahabat

Untuk budaya dan kultur Paris yang satu ini, sepertinya hampir terefleksi dengan sempurna dalam Emily in Paris. Tetapi asal jangan salah tangkap. Karena yang sebenarnya agak kurang bersahabat adalah hanya warga Paris saja, bukanlah seluruh penghuni Prancis. Lagipula sifat kurang bersahabatnya itu hanya kepada orang asing—yang bisa dibilang normal, semua orang juga akan agak dingin dengan orang asing—atau dalam hal ini yang dimaksudkan adalah warga Paris hanya kurang bersahabat kepada para turis.

Jikalau sobat traveladdict berwisata ke Prancis disarankan untuk menginap pada penginapan kecil nan nyaman di daerah pedesaan, niscaya maka akan menemukan betapa hangat dan bersahabatnya para warga Prancis. Jadi, untuk budaya dan kultur Paris yang satu ini bisa dihadapi dengan trik seperti itu.

Wanita Paris Sederhana Dilihat, Misterius Didalam

Paris adalah kota mode memang tidak perlu diragukan lagi. Seluruh fashion di dunia pasti berkiblat pada Paris, tetapi sebagaimanapun seluruh dunia berusaha meniru tetap saja rumus utamanya dilupakan, yaitu warna. Budaya dan kultur Paris yang dianut oleh para waganya khususnya wanita adalah kejeniusannya dalam menciptakan padu padan yang anggun dan megah tanpa menggunakan warna yang mencolok.

Sylvie dalam balutan busana hitam khas wanita Prancis
Gaya berpakaian Sylvie yang sederhana tetapi anggun
Sumber: popbuzz

Wanita paris lebih memuja asesoris yang sederhana namun berkelas seperti ikat pinggang, anting, dan gelang. Dalam Emily in Paris, banyak sekali adegan memperlihatkan Emily dalam balutan pakaian hijau, kuning, dan merah. Warna-warna tersebut sangat tidak mencerminkan budaya dan kultur Paris yang lebih memilih biru, hitam, dan cokelat seperti Sylvie. Sehingga bisa disimpulkan bahwa budaya dan kultur Paris yang satu ini cukup valid, bahwa gaya berpakaian Emily yang terlalu Amerika sangat mengusik sedangkan wanita Paris sederhana diluar tetapi lebih menghabiskan pikirannya untuk keseksian dalam memilih pakaian dalam. Bagaimana Emily bisa mendapatkan hati Sylvie jikalau bajunya saja sudah warna-warni mengganggu pemandangan?

Menggoda atau Tergoda

Gabriel setia menemani Emily dalam segala kebutuhan
Gabriel menemani acara kantor Emily
Sumber gambar: Netflix

Ini merupakan salah satu budaya dan kultur Paris yang paling seru untuk dibahas. Menarik dari kisah Emily dan Gabriel, yang selalu menjadi pertanyaan mendasar adalah, apakah mereka salah? Dan kalau memang mereka salah, siapa yang bisa dituduh sebagai terdakwa utama dalam semesta Emily in Paris ini? Emily, Gabriel, atau bahkan Camille? Diketahui bahwa dari awal pertemuan mereka, Emily masih memiliki kekasih sedangkan Gabriel dianggap lajang baik oleh Emily atau penonton. Kemudian hubungan Emily dan Doug kandas tidak lama setelah Emily sampai di Paris. Melihat putusnya Emily dan Doug, jiwa opurtunis penonton segeran bergelora seolah menginginkan Emily dan Gabriel langsung jadian di tepat langsung episode berikutnya.

Tetapi ternyata penonton diberi atraksi rom-com yang membuat geregetan. Gabriel yang dengan sejuta pesona dan kebaikannya, selalu menjadi malaikat pelindung bagi Emily. Semua hal manis yang bisa dilakukan, pasti diberikan Gabriel kepada Emily, seolah mendekati dan menggoda. Emily yang sejauh itu belum mengetahui kalau Gabriel sudah memiliki kekasih, tampak menerima dan menikmati itu semua, menerima dirinya didekati Gabriel dan menikmati godaan tersebut. Sampai akhirnya diketahui bahwa Gabriel memiliki kekasih yaitu Camille.

Berdasarkan budaya dan kultur Paris, lelaki Prancis sebenarnya adalah lelaki yang baik, jujur, mudah terpikat, dan menggoda adalah semacam hobi mereka semua. Tetapi bukan dalam arti yang negatif, cenderung tidak berarti. Mereka akan memuji dan mendekati seseorang, tetapi kalau orang tersebut menunjukkan penolakan, mereka tidak akan marah apalagi memaksa. Mereka memuji kecantikan seseorang murni karena memang berkata jujur dari hati nuraninya saja karena sifat mereka yang mudah terpikat tetapi bukan berarti menginginkan lebih. Dalam hal menggoda, bahkan mereka menganggap itu sebagai seni. Ketika ada sesuatu yang indah dimata mereka, mereka pasti akan mengatakannya karena mereka sangat terbuka dengan perasaannya, dan tidak berkonotasi pada pendekatan khusus.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa alur Emily in Paris untuk kisah yang satu ini adalah valid adanya. Berarti Gabriel hanya bersikap baik dan jujur layaknya lelaki Prancis sehingga disalah artikan sebagai menggoda, sedangkan Emily yang dikisahkan buta dengan budaya dan kultur Paris menerima segala ketulusan Gabriel dan tergoda dengan itu semua. Dengan latar belakang budaya dan kultur Paris vs Amerika yang berbeda, bisa disimpulkan dengan logis bahwa tidak ada yang salah. Kalau sudah begini, paling mudah menyalahkan keadaan, ya?

Emily in Paris Versi Realita

Emily dan Gabriel yang selalu dipertemukan
Emily dan Gabriel didepan apartemen mereka
Sumber gambar: Netflix

Karir cemerlang sambil berkeliling Paris? Memang terkesan sangat delusional dan hanya akan terjadi dalam semesta Disney. Tetapi tentu bukan tidak mungkin. Emily in Paris malah bisa dibilang salah satu contoh paling nyata.

Kenapa suatu serial yang romantis di Paris bisa dibilang nyata? Justru karena culture shock yang dia alami. Budaya dan kultur Paris yang sangat berbeda dengan asal Emily, sempat membuat Emily seperti dikucilkan oleh rekan kerjanya bahkan atasannya yang keras. Tetapi Emily tidak menyerah begitu saja, dan juga bukan berusaha merubah dirinya demi mengikuti arus budaya dan kultur Paris. Justru Emily terkesan cuek dan tidak terlalu memikirkan cibiran tersebut, melainkan fokus untuk menunjukkan taringnya.

Emily tetap menjadi dirinya sendiri dengan menunjukkan kerja kerasnya yang ekstra. Dengan kerja kerasnya itulah justru dia dihargai dan disukai banyak orang, bukan karena dia mencoba mengikuti kemauan orang banyak sesuai budaya dan kultur Paris. Menghargai serta mempelajari bahasa, budaya dan kultur Paris atau negara manapun memang sangat disarankan, tetapi ketulusan hati dalam bekerja adalah yang terutama.

Dari serial ini bisa dipetik bahwa, semangat dalam mengejar prestasi adalah suatu yang patut diperjuangkan. Dengan memperjuangkan prestasi, sama artinya dengan memperjuangkan semua aspek kehidupan. Awalnya memang memperjuangkan prestasi, tetapi lambat laun itu akan menuntun kepada pekerjaan yang layak, tabungan yang cukup untuk travelling, hingga menjadi sinar yang bercahaya terang untuk orang-orang sekitar. Itulah saat adegan-adegan rom-com versi realita tercipta.

Baca juga: 3 Unique Cultural Festivals in West Kalimantan