Selain terkenal akan hutan yang lebat dan Sungai Kapuas, Kalimantan Barat juga sangat terkenal akan keberagaman budaya dan suku yang mendiami provinsi tersebut. Terdapat tiga suku utama yang berada di provinsi yang dilewati oleh garis khatulistiwa itu, yakni suku Dayak, Melayu, dan Tionghua. Setiap suku tersebut memiliki keunikan adat istiadat dan festival budayanya masing-masing. Waktu yang tepat untuk mengenal keunikan budaya dari setiap suku tersebut adalah saat festival budaya yang diadakan setiap tahunnya. Tiga festival budaya yang terkenal dan unik di provinsi yang terletak di bagian barat Pulau Kalimantan ini adalah Gawai Dayak, Festival Meriam karbit, dan Cap Go Meh Singkawang.

Gawai Dayak

Kemeriahan Festival Gawai Dayak
Kemeriahan Gawai Dayak (Sumber: kompasiana)

Gawai Dayak biasa diselenggarakan pada bulan Mei atau awal Juni di Rumah Randakng, Pontianak selama sepekan. Masyarakat suku Dayak dari berbagai daerah akan berkumpul di sana untuk memeriahkan pesta rakyat ini. Dayak diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur suku Dayak kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Pada perayaan ini, suku Dayak juga turut mendoakan agar hasil panen mereka selanjutnya dapat semakin melimpah dan terhindar dari berbagai bencana.

Beberapa ritual khas suku Dayak wajib diadakan dalam festival ini, seperti ritual Ngampar Bide atau menggelar tikar. Setelah berbagai ritual selesai dilakukan, maka suku Dayak bersama dengan masyarakat lainnya akan berjalan kaki melakukan pawai mengelilingi pusat kota Pontianak. Selain itu, diadakan pula beberapa permainan, seperti menangkap babi serta lomba Bujang dan Dara Gawai Landak, yang bertujaun untuk melestarikan budaya Dayak. Stan-stan aksesoris, alat musik, dan pakaian adat Dayak juga ada dalam festival ini guna mengenalkan budaya suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan tersebut kepada pengunjung yang hadir.

Festival Meriam Karbit

Keseruan Festival Meriam Karbit
Keseruan Festival Meriam Karbit (Sumber: Pontianak Post)

Festival Meriam Karbit berasal dari sebuah legenda mengenai asal usul terbentuknya kota Pontianak. Syarif Abdurrahman Alkadrie selaku raja pertama Pontianak pernah diganggu oleh hantu kuntilanak saat sedang membersihkan tahan yang digunakan untuk membangun tempat tinggal di Pontianak. Untuk mengatasi gangguan tersebut, dia memerintahkan pasukannya untuk membuat dan membunyikan meriam agar hantu-hantu tersebut kabur. Dari legenda ini, masyarakat Pontianak selalu membunyikan meriam karbit selama beberapa hari menjelang dan sesudah Idulfitri.

Meriam karbit akan dibunyikan di tepi Sungai Kapuas, Pontianak. Meriam ini terbuat dari batang pohon pinang, kelapa, atau meranti yang dihias dengan berbagai dekorasi untuk mempercantik meriam tersebut. Pada umumnya, meriam ini dicat berbagai warna atau dibungkus dengan kain. Suaranya yang keras akan menarik perhatian warga sekitar untuk datang berbondong-bondong dan ikut mencoba membunyikan meriam ini.

Oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Festival Meriam karbit telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Bahkan perayaan ini pernah memecahkan rekor MURI dengan sebanyak 150 meriam karbit dari 31 kelompok yang turut serta berpartisipasi pada 2007.

Cap Go Meh Singkawang

Tatung di Festival Cap Go Meh
Tatung di Cap Go Meh Singkawang (Sumber: CNN Indonesia)

Selain Festival Meriam Karbit, Cap Go Meh Singkawang juga telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2020. Festival ini diadakan pada hari kelima belas setelah Imlek di Kota Seribu Kelenteng. Masyarakat Singkawang memeriahkan pesta rakyat ini dengan mendirikan panggung seni dan budaya serta stan makanan.

Selain itu, para tatung atau orang yang dipilih untuk dimasukan roh yang dianggap baik akan diarak keliling Singkawang dalam keadaan tidak sadar. Atraksi yang ditampilkan oleh para tatung tersebut sangat di luar akal sehat manusia, seperti menusukkan tubuh mereka sendiri dengan berbagai benda tajam.

Pada Festival Cap Go Meh, masyarakat Kota Amoi ini juga akan mengadakan ritual buka mata replika 12 naga yang dilakukan untuk memasukan roh naga ke dalam replika naga yang akan diarak. Setelah selesai diarak, selanjutnya replika tersebut dibakar di lapangan wihara. Pembakaran replika tersebut menandakan telah berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.

Baca juga: Mengenal Festival Kuwung, Parade Kebudayaan Nomor 1 dan Tertua di Banyuwangi