festival kuwung
Festival Budaya

Festival kuwung sangat identik dengan kabupaten Banyuwangi. Selain itu jika berbicara tentang Banyuwangi sendiri merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang cukup menarik wisatawan karena memiliki destinasi wisata yang cukup lengkap, seperti laut, gunung, pantai dan hutan. Selain itu dikenal dengan julukan the sunrise of java karena Banyuwangi merupakan kabupaten pertama yang merasakan hangatnya sang mentari di pulau Jawa.

Apa itu festival kuwung?

Selain potensi alam yang mengagumkan, Banyuwangi memiliki potensi wisata yang tak kalah hebat, salah satunya dengan padatnya jadwal festival seperti diadakannya festival adat, musik, olahraga, dan lainnya dalam satu tahun yang berjumlah kurang lebih menyentuh hingga seratus acara dalam satu tahun. Tak salah hingga Banyuwangi diberi gelar sebagai kota festival. Salah satu acara yang menarik wisatawan yaitu festival kuwung.

Festival budaya pertama dan tertua di Banyuwangi ini tidak hanya menampilkan berbagai macam budaya dan seni yang tidak hanya berasal  dari Banyuwangi melainkan juga dari pulau tetangga seperti kabupaten Gianyar, Bali hingga Kalimantan. Selain itu para warga setempat dan wisatawan juga dihibur oleh pawai mobil dengan cahaya lampu warna-warni yang memanjakan mata.

Keberagaman kesenian serta penampilan yang berwarna-warni bak pelangi yang menerangi kota. Dan tahukah kamu arti dari kata kuwung ini? Kuwung sendiri diambil dari bahasa suku asli Banyuwangi yaitu suku osing yang berarti pelangi, sehingga tak salah pawai yang berpusat di halaman muka kantor pemerintah kabupaten Banyuwangi ini menyinari dan menghiasi sepanjang jalan kabupaten hingga berakhir di taman Blambangan dengan total rute sekitar 3 km.

Festival Kuwung Tahun 2019

Sebagai acara rutin yang dilakukan setiap tahun pada bulan Desember sebagai perayaan hari lahir kabupaten Banyuwangi ini, pada tahun lalu, tepatnya tahun 2019 festival kuwung ini mengambil tema “gemelare bumi blambangan” yang berarti gemilangnya bumi blambangan.

Kali ini dibagi ada dua tema besar dimana masing-masing tema menampilkan pertunjukkan yang menggambarkan keunggulan daerahnya. Yang pertama membawakan legenda Gontang Gelintang, yakni tentang asal-usul Desa Gintangan dan yang kedua menampilkan asal usul Berengos Perada Bara di Rajeg Wesi dan banyak lagi seperti kebudayaan mongo ketigo, dan sketsa cerita tutur ki wongsokaryo.

Sebagai gambaran pembaca, kisah legenda gontang gelintang menceritakan tentang pembukaan lahan di hutan yang ditujukan untuk membuat tempat bermukim, namun dalam prosesnya terjadi masalah yaitu makhluk tak kasat mata yang tinggal di hutan tersebut tidak terima jika rumahnya dimusnahkan begitu saja tanpa adanya timbal balik.

Maka dari itu, disetujuilah sebuah kesepakatan dimana para penunggu astral itu mau meninggalkan rumah mereka dengan syarat manusia harus mengganti pohon yang ditebang di hutan dengan menanam pohon Gontang di pinggiran sungai, yang sekarang tempat itu dikenal dengan nama Gintangan.

Cukup menarik bukan tentang alur cerita gontang gelintang yang dibawakan oleh para seniman dalam festival kuwung ini dan tentunya masih banyak kesenian budaya menganggumkan lainnya yang harus disaksikan karena banyak mengandung unsur nilai kehidupan yang dapat dipetik.

Selain filosofi kehidupan, terdapat juga tema agrowisata berjdudl Semriwing Kembang Kopi yang ditunjukkan untuk membanggakan potensi kekayaan sumber daya alam berupa tanaman kopi yang melimpah di kabupaten ini, mengingat banyaknya varian kopi yang ada di Banyuwangi yang wajib pembaca cicipi saat berkunjung.

Mungkin hanya dua rangkaian dari sekian banyak penampilan yang bisa dibagikan kali ini, selebihnya bisa pembaca saksikan langsung di lokasi dan rasakan langsung atmosfer festival lokal yang tidak kalah dengan festival internasional.

Tujuan dan makna festival kuwung

Pesta seni budaya rakyat ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah, agar tidak hilang dan terganti oleh zaman. Hal ini sudah terlihat dengan peran aktif generasi muda yang tergabung dalam jaringan remaja Banyuwangi atau yang disingkat dengan nama jemari yang berpartisipasi dalam festival ini dengan menunjukkan kemampuan tari mereka.

Di zaman yang cukup berkembang saat ini, dimana budaya luar dengan mudah dapat masuk ke nusantara, para generasi muda harus berperan agar budaya Indonesia tidak tergantikan oleh budaya asing. Selain terjun langsung mengembangkan sebuah budaya, para pemuda dan pemudi Indonesia juga dapat aktif secara tidak langsung dengan cara membantu mempromosikan budaya lokal ke khalayak. Dengan cara cara tersebut pembaca turut membantu kelestarian budaya Indonesia.

Jika berminat untuk mengunjungi dan mengetahui lebih banyak tentang kabupaten Banyuwangi, kalian dapat mengunjugi website resmi di https://www.banyuwangikab.go.id/.

Sampai berjumpa di lain kesempatan ya teman-teman travel addict

Jangan lupa baca artikel festival tahunan yang tertunda saat pandemi di https://traveladdict.xyz/id/festival-langganan-tiap-tahun-yang-tertunda/