Ada hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa. Belum banyak orang Indonesia yang tahu tentang Guinea Khatulistiwa. Seperti yang kita tahu, ada berbagai faktor tentang perizinan untuk datang ke suatu negara dan paspor memegang peranan penting bagi seorang warga negara untuk melakukan perjalanan antar negara. Pembuatan paspor di suatu negara memiliki regulasi dan hanya dapat dikeluarkan oleh pihak yang berwenang di suatu negara, namun demikian, ada faktor-faktor tertentu yang menentukan perizinan untuk traveling ke suatu negara, selain dokumen legalitas berupa paspor ataupun visa, hal-hal seperti tujuan traveling dan hubungan diplomatik antar negara juga menjadi tolak ukur dari perizinan untuk masuk ke sebuah negara.

Republik Guinea Khatulistiwa atau Equatorial Guinea merupakan sebuah negara kecil dengan luas sekitar 28.000 kilometer persegi dan terletak di kawasan pesisir Afrika Tengah. Ibukota dari negara ini adalah Malabo, sedikit fakta unik dari penamaan ‘khatulistiwa’ pada negara ini, dulunya Guinea Khatulistiwa merupakan sebuah negara koloni Spanyol, namun setelah merdeka mereka mengubah namanya berdasarkan letak geografis negara ini yang berada di antara teluk Guinea dan garis khatulistiwa. Nah, mungkin negara ini sedikit asing bagi orang Indonesia karena eksistensinya memang tidak setenar negara besar di benua Afrika lainnya, apalagi untuk menjadi destinasi wisata populer.

Guinea Khatulistiwa memang memiliki sektor pariwisata yang masih berkembang, namun negara ini memiliki destinasi wisata andalan seperti pantai-pantai yang menakjubkan dan wildlife yang beragam. Beberapa destinasi wisata andalan yang banyak dikunjungi di negara ini adalah Ibukota Malabo, Monte Alen National Park, Moca, and San Antonio de Ureca. Setiap tahunnya, rata-rata ada sekitar 100,000 wisatawan yang berkunjung ke Guinea Khatulistiwa.

Nah, sebelum kamu datang kesini, ada baiknya kamu menyimak hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa, so, simak informasi berikut ini ya!

1. Paspor di Guinea Khatulistiwa Menjadi Paspor Dengan Index Travel Freedom yang Lemah

Passport Index di Guinea Equatorial
Passport Index of Equatorial Guinea. Source: Passportindex.org

Hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa yang pertama adalah negara ini memiliki passport index travel freedom yang lemah. Pemegang paspor di Guinea Equatorial sendiri per 1 Januari 2017 hanya memiliki akses bebas visa dan visa on arrival maupun electronic-Travel Authorization (eTA) di kurang lebih 46 negara saja, hal ini tentu berbeda jauh dengan Jepang yang menduduki urutan pertama dengan total akses masuk ke 193 negara, di nomor dua ada negara tetangga dari kawasan Asia Tenggara yaitu Singapura yang memiliki index travel freedom ke 192 negara. Untuk berkunjung ke negara ini sendiri, bagi penduduk di negara-negara yang membutuhkan visa untuk berkunjung kesini akan mendapati paspor valid selama enam bulan dengan visa yang rata-rata valid sekitar 30 hari. 

Namun ada juga negara-negara yang mendapatkan bebas visa ataupun visa on arrival ke Guinea Khatulistiwa. Menurut Henley visa restrictions index, pada tahun 2017 negara di kawasan Afrika Tengah ini termasuk menduduki peringkat paspor paling lemah dan berada di urutan ke-89 sebagai negara yang memiliki kebebasan travel. Pada tahun 2021, Guinea Khatulistiwa telah mengalami peningkatan dengan memiliki total akses ke 56 destinasi negara. Pemegang paspor di Guinea Equatorial sekarang memiliki akses bebas visa ke 21 destinasi, visa on arrival ke 34 destinasi dan electronic-Travel Authorization ke satu destinasi dan menduduki peringkat ke 85 dalam index travel freedom. 

Indonesia sendiri termasuk dalam negara yang masih membutuhkan visa untuk masuk ke Guinea Khatulistiwa. Hal tersebut memang tidak terlepas dari belum populernya kunjungan orang dari luar negara Guinea Khatulistiwa baik untuk wisatawan maupun untuk keperluan lainnya. Hampir semua warga negara lain memerlukan visa untuk masuk ke Guinea Khatulistiwa termasuk visa transit.

2. Guinea Khatulistiwa Tidak Memiliki Kedutaan di Indonesia

travel freedom
Bendera Guinea Khatulistiwa berkibar. Source: Pinterest

Hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa selanjutnya adalah Guinea Khatulistiwa tidak memiliki kantor kedutaan resmi di Indonesia. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh dengan soal perizinan yang harus ditempuh terkait paspor dan visa untuk kunjungan dari Indonesia ke Guinea Khatulistiwa begitupun sebaliknya. Faktor yang dapat membuat hal tersebut terjadi adalah hubungan diplomatik antar negara yang belum kuat ataupun memang sumber daya dari Guinea Khatulistiwa yang belum memadai untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia. 

Padahal faktanya, Indonesia dan Guinea Khatulistiwa pada tahun 2019 telah menandatangani perjanjian bebas visa untuk pejabat yang memegang wewenang diplomatik dan paspor dinas, namun memang hingga sekarang masih dalam peninjauan dan masih belum terealisasikan, sehingga Indonesia masih harus menggunakan visa untuk bisa datang ke Guinea Khatulistiwa begitupun sebaliknya, penduduk dengan paspor Guinea Khatulistiwa memerlukan visa untuk ke Indonesia. 

Untuk mengurusnya keberangkatan ke Guinea Khatulistiwa juga sulit karena ketiadaan kantor kedutaan di Indonesia, kamu terpaksa harus mengurus melalui kedutaan terdekat di negara lain, adapun di masa pandemi, kamu bisa mengajukan visa secara online.

3. Jenis-Jenis Visa yang Berlaku di Guinea Khatulistiwa 

Hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa
Ilustrasi Visa

Ada beberapa jenis visa yang berlaku untuk seorang pemegang paspor di Guinea Equatorial. Hal-hal yang harus dicermati adalah, tidak semua negara memiliki privilege yang sama ketika memasuki sebuah negara, semua memiliki regulasi masing-masing. Di Guinea Khatulistiwa sendiri, visa yang paling umum adalah eVisa atau electronic-Visa dan visa fisik konvensional seperti pada umumnya. Meski negara ini telah memiliki akses ke 56 negara yang terbagi menjadi bebas visa ke 21 destinasi dan visa on arrival ke 34 destinasi dan satu destinasi yang memerlukan electronic-Travel Authorization, namun ada sekitar 173 destinasi negara lainnya yang membutuhkan visa konvensional maupun eVisa untuk bisa masuk.

Bagi seorang pemegang paspor Guinea Equatorial, Indonesia adalah termasuk negara yang membutuhkan visa fisik konvensional untuk akses masuknya bersama dengan 152 destinasi negara lainnya, sementara untuk pengajuan visa online atau  e-Visa ada sekitar 21 negara. Hal yang masih sering dibingungkan adalah penggunaan dan perbedaan electronic-Travel Authorization dan e-Visa. Secara garis besar keduanya memiliki regulasi dan kondisi yang berbeda, semua warga negara lain dapat mengajukan eVisa namun hanya negara dengan visa Waiver Program yang bisa mendapatkan akses eTA. 

Hal yang paling fundamental adalah, eTA bukanlah visa, eTA hanya semacam perizinan untuk masuk ke negara tertentu sementara eVisa sama saja seperti visa konvensional, bedanya kamu membutuhkan pengajuan secara online. Dilihat dari segi fungsinya sendiri, e-Visa rata-rata hanya berlaku dari 30 hari sampai 60 hari dalam sekali kunjungan, sementara eTA dapat berlaku dengan jangka waktu bertahun-tahun dan diperbolehkan untuk berkali-kali kunjungan.

Nah itulah 3 hal penting yang perlu orang Indonesia tahu tentang paspor di Guinea Khatulistiwa, semoga informasi ini dapat membantu ya!

Baca Juga: Mau Liburan ke Cyprus? Ini 5 Kategori Visa di Cyprus yang Harus Kamu Pahami!