Pernahkah kalian mendengar tentang kampanye slow living? Di era yang serba cepat ini ternyata masih ada beberapa tempat yang ingin menerapkan hidup perlahan yang diterapkan di banyak kota dan desa di Italia. Apa maksud dari hidup perlahan ini? Apakah maksudnya kembali ke kehidupan lampau? Bagaimana cara masyarakatnya bertahan hidup dengan kampanye ini di era yang mengedepankan kecepatan ini? Bolehkah kita berwisata ke desa ini? Mari kita kupas satu persatu!

Baca juga: Traveling Di Italy Terasa Lebih Easy Dengan 5 Aplikasi Ini

desa di italia
Umbria, salah satu desa di Italia yang menerapkan program slow living

Kampanye Slow Living

Slow living atau hidup perlahan ini bukanlah hidup mundur kebelakang atau bukan juga lawan dari hidup cepat. Kata slow ini merujuk kepada gaya hidup yang menggunakan pendekatan perlahan dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka yang memilih untuk ikut gaya hidup ini lebih mengedepankan untuk menikmati kehidupannya dengan seimbang dan penuh nilai. Kampanye ini pertama kali dicetuskan oleh Carlo Petrini di Italia pada tahun 1980 sampai 1990 untuk mengesampingkan diri dari makan makanan cepat saji, hilangnya tradisi bercangkul tanam, dan komunikasi yang cepat. Program kampanye ini mengisi misi untuk tidak kehilangan jati diri dari kehidupan terdahulu seperti makanan tradisional, memetik bahan makanan langsung dari tanah, dan mengolah bahannya menjadi makanan sehari-hari.

“Tinggal di daerah yang menerapkan kehidupan seperti ini membuat kita bisa lebih memberi nilai-nilai dalam setiap detik kehidupan kita” kata Serena Giovanonni, seorang blogger dan travel consultant yang pernah tinggal sementara di desa Umbria, Italia, salah satu desa yang juga menerapkan program hidup perlahan ini. Menilik dari cerita yang ia kisahkan di artikelnya tentang kehidupan di desa itu, kita bisa membayangkan betapa damainya hidup berdampingan dengan alam dan akrab dengan sesama warga. Mereka tidak menolak masuknya teknologi, mereka hanya memilih untuk hidup dengan damai di dunia yang serba cepat.

slow living
Bercocok taman sebagai salah satu contoh program slow living

Diterapkan Pertama Kali pada Desa di Italia

Program ini pertama kali dilancarkan di Italia oleh sang pencetus, yakni Carlo Petrini di sebuah desa bernama Greve in Chianti. Setelah para demonstran menolak untuk ikut hidup dengan cepat dan memakan makanan fast food, mereka bersama-sama tinggal di desa yang di mana tidak ada satupun pabrik besar dan membuat segalanya dengan cara tradisional. Mereka hidup bercocok tanam dengan buah zaitun, anggur, dan hasil ternak sebagai spesialisasinya. Selain itu, para ibu dan anak perempuannya dengan telaten membuat kerajinan tangan seperti sapu tangan dan taplak untuk dijual sebagai buah tangan bagi para pelancong yang mengunjungi desa tersebut.

Memang tidak ada hotel besar untuk menampung para pelancong ini. Mereka juga tidak membuat gedung baru, melainkan menggunakan gedung lama yang sudah digunakan turun menurun dari kakek buyut mereka untuk dijadikan penginapan. Mereka tidak menolak datangnya para wisatawan, tapi sebaiknya kita sebagai pendatang harus menghormati budaya tuan tanahnya.

Meskipun awalnya diterapkan hanya disatu desa, kini program gaya hidup ini mulai diterapkan juga di berbagai kota dan desa dari 13 wilayah di Italia. Dikutip dari sebuah artikel pada website Lonely Planet, hingga tahun 2019 ada 42 kota dan desa dari utara hingga selatan Italia yang bergabung dalam program kampanye ini, dengan penjabaran sebagai berikut, 6 daerah masing-masing di wilayah PiedmontTuscany dan Marche, 5 tempat di daerah Campania, 4 daerah masing-masing di Puglia and Lazio, 3 daerah di Veneto dan Abruzzo, dan 1 daerah di LiguriaUmbriaSicilyCalabria and Trentino masing-masing.

Pemandangan di Greve in Chianti

Proses Seleksi Desa yang Layak

Ternyata untuk bergabung dengan program ini, kota-kota atau desa-desa ini harus melawati berbagai proses seleksi kelayakan yang ditetapkan oleh lembaga FEE (the Foundation for Environmental Education). Untuk mendaftar mereka harus melengkapi kota atau desa sebagai jawaban dari pertanyaan ke-sustainable-an, misalnya kepedulian terhadap kawasan yang masih terjaga kealamiannya, keberadaan satu atau lebih produk asli atau tradisional dari desa atau kota tersebut, dan kualitas penawaran pariwisata yang bisa dikembangkan. Ini adalah salah satu cara mereka untuk dapat menyorot warisan pertanian Italia yang luas dan berbagai produk unggulannya, seperti anggur, keju, dan pasta.

Kebun anggur di Greve in Chianti

Dari penjabaran proses pemilihan desa ini, bisa dilihat bagaimana tempat-tempat ini bisa menjadi rekomendasi perjalanan kalian berikutnya melihat tempat-tempat terbaik di pinggiran kota dan desa-desa di italia. Selain untuk membantu menjaga kesemibangan alam ternyata program ini juga berperan penting untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata ke Italia. Perjalanan ke desa-desa sustainable ini mulai menjadi pembicaraan dikalangan para wisatawan, sehingga pergi berlibur ke tempat-tempat ini menjadi sangat diminati. Siapa yang tidak ingin menikmati kehidupan tenang dengan ditemani burung yang masih berkicau riang sambil menikmati hasil perkebunan yang masyarakat tumbuhkan dengan sepenuh hati?

Jadi, siapa nih yang jadi penasaran buat datang berwisata ke desa-desa cantik ini? Tambah lagi gak nih bucket list perjalanan kalian? Jangan lupa kalau dapat kesempatan mengunjungi tempat-tempat ini, tetap junjung paham yang mereka terapkan dengan ikut menjaga keseimbangan alam dan tidak merusak apa yang sudah mereka jaga selama turun temurun.

Baca juga: Mau ke luar negeri Butuh Paspor Indonesia? Easy Step! Inilah 5 Langkah Membuat Paspor.