Istanbul merupakan kota paling populer di Turki (Türkiye dalam bahasa Turki) sekaligus kota besar yang padat penduduk dan menjadi pusat aktivitas negara. Istanbul sendiri adalah satu-satunya kota di dunia yang berada di antara benua Eropa dan Asia. Kota ini memiliki peradaban campuran akibat letaknya yang berada di persimpangan antara dua benua. Istanbul adalah gambaran nyata kombinasi antara kota tua dan modern yang memiliki perpaduan budaya Timur Tengah dan Mediterania dalam suasana yang menawan.

Istanbul memiliki catatan sejarah selama rentang waktu 8.500 tahun dan merupakan pusat kekuasaan dari tiga kekaisaran besar di dunia yaitu, Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Byzantine, dan Kekaisaran Ottoman. Sejarah paling besar kota ini bisa ditelusuri kembali di tahun 330 Masehi, saat kejayaan Kekaisaran Byzantine (Romawi Timur) baru merintis reputasinya sebagai salah satu kekaisaran terkuat dalam sejarah dunia.

Kota ini sempat berganti nama dua kali sebelum memiliki nama yang sekarang. Dulunya, kota ini bernama Byzantium pada awal kependudukan koloni Yunani di tahun 3.000 SM yang dipimpin oleh Raja Byzas. Potensi lokasi strategis yang berada di dekat Selat Bosphorus ini, awalnya tidak banyak disadari oleh para pemukim di awal kependudukan. Raja Byzas dianggap mengambil keputusan terbaik pada masa itu, melihat bagaimana ternyata keberadaan kota ini yang menjadi lokasi sangat strategis dan diperebutkan berbagai pihak.

Baca juga: 19 Makanan Khas Turki yang Delicious dan Populer, Patut untuk Kamu Coba!

Pada awal 100-an SM, lokasi ini menjadi bagian dari kekuasaan Kekaisaran Romawi dan pada 306 M, Kaisar Konstantin Agung menjadikan Byzantium ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Sejak saat itu, kota ini dikenal dengan nama Konstantinopel. Lokasi yang begitu strategis untuk perdagangan dan transportasi antara tiga benua membuat kota ini diperebutkan, dan secara otomatis musuh bebuyutan yang harus dilawan Kekaisaran Romawi juga tidak tertandingi. Selama beberapa ratus tahun berikutnya orang Persia, Arab, orang nomaden dari berbagai tempat, termasuk anggota Perang Salib Keempat yang sempat memerintah kota, menyerang Konstantinopel untuk mengambil alih kekuasaan Romawi.

Pada tahun 1453, orang-orang Turki Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Mehmet II mampu menaklukkan Konstantinopel yang sudah sangat lemah akibat invasi dan pertempuran konstan hingga Konstantinopel akhirnya lumpuh. Berganti nama menjadi Istanbul, nama ini menjadi nama ketiga dan terakhir pemberian dari Kekaisaran Ottoman.

Istanbul diibaratkan seperti pusat saraf pada otak manusia. Kota ini menjadi tempat untuk menggencarkan kampanye militer yang memperbesar kejayaan Kekaisaran Ottoman secara dramatis. Pada pertengahan 1500-an, Istanbul, dengan populasi hampir setengah juta sudah merupakan pusat budaya, politik, dan perdagangan utama di dunia. Kekuasaan Ottoman berlanjut sampai dikalahkan dalam Perang Dunia I yang mengakibatkan Istanbul diduduki oleh tentara sekutu.

Istanbul berkembang secara dramatis dan saat ini populasinya mencapai lebih dari 15,5 juta serta mengalami peningkatan dengan perkiraan 700.000 orang per tahun. Sektor industri telah berkembang dan sektor pariwisata turut berkembang beriringan dengan hal itu. Istanbul terus menjadi kota yang menciptakan sejarahnya sendiri di titik pertemuan dua benua. Siluet kota yang indah menggabungkan situs kaya budaya dan bersejarah dari gabungan peninggalan penguasa-penguasa terdahulu.

Ada fakta unik mengenai salah satu fasilitas umum di Istanbul, kota ini memiliki lebih dari 1.400 toilet yang tersebar berkat peninggalan Kekaisaran Ottoman yang menyukai ukiran hiasan di objek yang sangat umum digunakan orang, yang dalam hal ini adalah toilet. Salah satu bukti ini menunjukkan bahwa Istanbul masih melestarikan budaya dan kebiasaan peninggalan para penguasa yang turut ambil bagian dalam membentuk Istanbul hingga seperti sekarang.

Sebagai kota kaya sejarah dan kebudayaan, Istanbul juga masih mempertahankan sisa-sisa atau bahkan bentuk asli peninggalan para penguasa terdahulu. Mengingat banyaknya momen-momen penting di masa lalu yang berdampak sampai sekarang, warisan berharga peninggalan ini bermacam-macam bentuknya bisa benda atau bahkan bangunan.

Di Istanbul sendiri terdapat cukup banyak bangunan atau monumen yang menjadi museum sebagai bentuk pelestarian jangka panjang pemerintah Turki. Bangunan peninggalan yang dibangun di atas reruntuhan para musuh saat perang memperebutkan kota, telah menjadi tempat wisata bersejarah penuh pengetahuan. Tak jarang karena alasan inilah Istanbul kerap disambangi turis mancanegara untuk menyaksikan dan merasakan langsung perasaan seolah masuk dalam mesin waktu dan kembali pada masa-masa pembentukan kota.

Berikut ini Travel Addict akan kupas beberapa tempat wisata bersejarah yang terkenal dan wajib kalian kunjungi jika berada di Istanbul. Sudah siap untuk rekreasi sekaligus menambah pengetahuan?

1. Menelusuri jejak Kekaisaran Byzantine di Hagia Sophia

Dengan air mancur dan taman asri terawat mendukung tampilan Hagia Sophia.
Tampilan luar Hagia Sophia yang menjulang gagah.

Hagia Sophia merupakan tempat wisata bersejarah tinggi di Istanbul berbentuk sebuah bangunan berkubah yang pada awalnya difungsikan sebagai sebuah gereja Kristen di tahun 360 Masehi. Tempat wisata bersejarah ini telah berdiri selama lebih dari 1500 tahun di sepanjang tepi Selat Bosporus dan sempat menjadi tempat perkumpulan ibadah bagi tiga kelompok agama yaitu, Kristen, Katolik, dan Islam.

Konstruksi bangunan ini ditugaskan dan diarahkan oleh kaisar Romawi Kristen, Konstantinus I. Bangunan ini dulu dikenal sebagai “Magna Ecclesia” dalam bahasa latin atau “Megale Ekklesia” dalam bahasa Yunani, yang jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah “Gereja Besar” karena ukurannya yang lebih besar dari semua gereja di kota pada masanya. Nama kedua dari tempat wisata bersejarah ini kemudian dikenal dengan nama Hagia Sophia sekitar tahun 430 Masehi yang dalam bahasa Yunani artinya, “Kebijaksanaan Suci”.

Sayangnya, Hagia Sophia dibakar sewaktu kerusuhan di tahun 404 Masehi dan mengalami kerusakan parah sehingga tidak ada sisa dari bangunan aslinya saat ini. Bangunan utama Hagia Sophia diresmikan pada tahun 537 Masehi oleh Kaisar Bryzantine yaitu, Justinian I, setelah direkonstruksi ulang selama hampir enam tahun dan menjadi sebuah gereja Katolik.

Interior dalam Hagia Sophia.
Tampilan atap kubah melengkung dari dalam ruangan.

Kekaisaran Byzantine memelihara tradisi seni, arsitektur, pengetahuan, teologi, dan sastra selama berabad-abad dalam gaya yang memadukan tradisi Yunani, Romawi, dan daerah timur lainnya. Bahkan setelah hancur pun, Hagia Sophia saat itu tetap dipandang sebagai karya arsitektur utama yang megah dan melibatkan bahan-bahan dari seluruh peninggalan sisa Kekaisaran Byzantine.

Setelah penaklukan Konstantinopel oleh Kekaisaran Ottoman yang dipimpin Sultan Mehmed II di tahun 1453, bangunan ini mengalami konversi agama dari Kristen dan Katolik menjadi Islam serta otomatis mengalami pengalihan fungsi sebagai masjid. Kekaisaran Ottoman menyebut kota (sekarang Istanbul) dengan nama Ayasofya, dan sampai saat ini Hagia Sophia dikenal dengan Ayasofya Müzesi dalam bahasa Turki.

Tempat wisata bersejarah ini mencerminkan perubahan agama yang telah terjadi di wilayah Istanbul selama berabad-abad. Hagia Sophia memiliki kubah besar di atas basilika yang berbentuk persegi panjang, mosaik Kristen dan Katolik berlimpah yang menutupi hampir setiap permukaan, ukiran dan prasasti Islam, tatanan batu dan pilar marmer, pintu perunggu, pintu marmer, dan salib besar di puncak kubah. Tak lupa area persegi di lantai tengah yang dilapisi marmer (omphalion) tempat di mana kaisar dahulu dimahkotai. Mewah sekali, bukan?

2. Melihat peninggalan Kekaisaran Ottoman di Istana Topkapi

Satu dari empat gerbang yang ada sebagai penghalang untuk mencapai dalam istana.
Salah satu gerbang untuk masuk ke dalam Istana Topkapi.

Istana yang sekarang menjadi museum ini menyimpan peninggalan pemerintahan Ottoman sekaligus menjadi tempat tinggal sultan pada masa kejayaan Ottoman. Tempat wisata bersejarah terkenal ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II, antara tahun 1466 sampai 1478. Istana Topkapi terletak di atas sebuah bukit di semenanjung kecil antara Laut Marmara, Bosphorus, dan Tanduk Emas (Golden Horn).

Setelah mencapai kemenangan yang luar biasa pada tahun 1453 dengan merebut Konstantinopel, Sultan Mehmed II memerintahkan pembangunan Istana Topkapi di atas reruntuhan Byzantine kuno. Jumlah penduduk istana secara bertahap meningkat dari 800 penduduk menjadi 5.000 penduduk dalam kurun waktu 400 tahun. Istana Topkapı yang sangat besar menampung 1.000-4.000 jiwa, termasuk hingga 300 orang di harem. Tempat wisata bersejarah ini menjadi saksi pusat Kekaisaran Ottoman, tak hanya menjadi kediaman sultan, Istana Topkapi juga menjadi tempat urusan administrasi dan lembaga pendidikan tertinggi kekaisaran.

Letak furnitur dan dekorasi hampir sama seperti asli dari zaman Kekaisaran Ottoman.
Salah satu bilik yang biasa ditempati putra mahkota untuk belajar sebelum naik tahta menjadi sultan.

Tempat wisata bersejarah ini diubah menjadi museum berdasarkan keputusan pemerintah sejak tanggal 3 April 1924 setelah berakhirnya Kekaisaran Ottoman. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki mengelola museum istana ini dan menawarkan akses masuk ke dalam bilik-bilik bekas sultan untuk seluruh pengunjung.

Tata letak asli tempat wisata bersejarah ini terdiri dari empat halaman berturut-turut yang dikelilingi oleh tembok tinggi. Setiap halaman memiliki tujuan yang berbeda dan dipisahkan oleh sebuah gerbang yang secara bertahap membatasi pintu masuk, yang berpuncak pada halaman ketiga dan keempat yang paling pprivat dengan akses sangat terbatas.

Hal yang pertama menyambut kedatangan di depan Istana Topkapi adalah gerbang masuk besar yang dikenal dengan nama “Imperial Gate” (Gerbang Kekaisaran). Setelah melewati gerbang, pengunjung akan memasuki halaman pertama yang juga dikenal sebagai “Courtyard of Regiments”. Keunikan dari gerbang ini terletak pada fakta bahwa zaman dahulu, hanya sultan yang melintasi gerbang ini dengan menunggang kuda sementara yang lainnya harus dengan berjalan kaki. Selama masa pemerintahan Kekaisaran Ottoman, siapa pun yang tidak bersenjata dapat masuk melalui gerbang ini. Ruang halaman terbuka membuat area ini ideal untuk upacara atau prosesi sehingga, area  ini secara otomatis menjadi alun-alun istana yang paling ramai.

Gerbang kedua disebut “Gate of Salutation” karena setiap orang yang lewat harus memberi hormat atau salam kepada sultan sebelum melewatinya. Di kedua sisi gerbang juga terdapat dua menara penjaga yang tinggi dan megah. Gerbang ini mengarah ke halaman kedua, juga disebut “Divan Square” (Alun-alun Divan), yang merupakan pusat administrasi istana. Hanya pengunjung resmi dan anggota pengadilan yang dapat memasuki area ini.

Setelah melewati halaman kedua, pengunjung akan tiba di gerbang ketiga sekaligus gerbang terakhir yang dikenal sebagai “Gate of Felicity”. Gerbang berkanopi yang mengarah ke halaman ketiga atau halaman paling dalam ini menjadi pintu masuk ke kediaman pribadi sultan dan sekolah istana bagian dalam. Hanya sultan, anggota keluarganya, para pembantunya, dan pengunjung yang sudah mendapat izin yang bisa masuk dan itu pun hanya pada kesempatan tertentu.

Pengunjung sultan hanya bisa sampai ke tempat yang telah ditentukan dan diharapkan untuk mengikuti adat istiadat yang ketat. Mereka tidak dapat melakukan kontak mata atau berbicara langsung dengan sultan tetapi malah akan menundukkan kepala, mengarahkan pandangan ke bawah, dan berbicara dengan penerjemah sultan.

Ruang tahta dengan dominasi warna emas, merah, dan biru serta ukiran cantik.
Ruang tahta sultan yang didesain sangat mewah.

Gerbang ini adalah penghalang terakhir sebelum sampai di ruang tahta, tempat sultan biasa merayakan peristiwa penting. Wah, sangat menarik, ya!

3. Mengunjungi Masjid Sultan Ahmed yang ikonik

Masjid paling terkenal di Istanbul yang penuh nilai sejarah.
Keindahan Masjid Sultan Ahmed yang terlihat dari kejauhan.

Terletak berseberangan dengan Hagia Sophia, kalian bisa melihat bangunan megah yaitu, Masjid Sultan Ahmed yang familiar dengan sebutan Masjid Biru (The Blue Mosque). Masjid megah yang berdiri sejak tahun 1616 ini merupakan salah satu tempat wisata bersejarah terbaik di Istanbul. Nama lain masjid ini (Masjid Biru) diberikan sesuai dengan desain bangunan yang didominasi warna biru. Sedangkan, nama utama tempat wisata bersejarah ini diambil dari orang yang menginisiasi proses pembangunannya. Sultan Ahmed I ingin membangun tempat ibadah khusus Islam yang bersaing dengan Hagia Sophia, atas keinginan beliau, pembangunan masjid ini pun dimulai di tahun 1609.

Masjid ini mengikuti gaya arsitektur tradisional arsitektur Islam yang terdiri dari mausoleum, madrasah (sekolah), dan rumah sakit. Sebuah madrasah, rumah sakit, han, pasar, imaret dan makam Sultan Ahmet I beserta istri dan ketiga anaknya semua merupakan bagian dari kompleks tempat wisata bersejarah ini. Sayangnya, banyak di antara tempat-tempat ini yang kemudian dirobohkan pada abad ke-19.

Masjid ini memiliki dua bagian utama, yang pertama adalah aula ibadah (shalat) besar terpadu yang dimahkotai oleh kubah utama dengan halaman yang sama luasnya. Berbeda dengan masjid kekaisaran sebelumnya di Istanbul, dominasi dinding batu eksterior dibuat melalui banyak jendela. Pintu masuk besar yang tinggi dan tersembunyi menembus tiga sisi batasan gedung untuk memberikan akses ke seni kaligrafi ayat-ayat Al-Quran.

Warna interior masjid didominasi warna biru dan krem.
Atap masjid dari dalam aula didominasi warna biru.

Bingkai bagian dalam halaman berbentuk arcade berkubah, yang seragam di semua sisi kecuali pintu masuk aula yang lengkungannya meluas. Empat menara berbentuk pensil diposisikan di sudut ruang shalat masjid sedangkan dua lainnya mengapit sudut luar halaman. Masing-masing menara pensil ini memiliki serangkaian balkon yang menghiasi bentuknya yang ramping. Untuk memperluas ruang shalat masjid, serangkaian langit-langit setengah kubah dibangun untuk menghubungkan dinding luar masjid. Sebuah galeri berbingkai yang membentang di sepanjang dinding interior kecuali di dinding kiblat menghadap Mekah. Sebuah Mihrab marmer yang dipasang di tengah-tengah dinding ini menuntun umat ke arah yang benar untuk berdoa dan di sisi kanan, terdapat mimbar marmer tinggi dan tipis.

Interior tempat wisata bersejarah ini memiliki 20.000 ubin biru yang melapisi langit-langitnya yang tinggi. Ubin tertua menampilkan motif bunga, pohon, dan pola abstrak yang menjadikannya contoh peninggalan asli ala desain Iznik di abad ke-16.

Di tempat wisata bersejarah yang sekaligus tempat ibadah ini, pengunjung bisa melihat sekilas kehidupan kaum Muslim sekuler di Turki karena masjid masih beroperasi setiap hari untuk keperluan ibadah. Masjid tetap dibuka untuk kunjungan umum kecuali waktu jam shalat umat Muslim. Kabar baiknya, tiket masuk ke masjid ini gratis, tetapi pengunjung harus mengikuti kode berpakaian umat Muslim seperti menggunakan pakaian tertutup hingga kaki dan sebisa mungkin menutupi kepala dan tidak memperlihatkan rambut secara terang-terangan bagi wanita. Saat mengunjungi masjid, pengunjung juga perlu untuk melepas sepatu, sebagai bagian dari tradisi umat Islam saat memasuki masjid. Bagaimana, apa kalian tertarik mengunjungi masjid cantik nan megah ini?

4. Mencapai puncak Menara Galata memandang kota

Salah satu bangunan tertinggi di Istanbul.
Terlihat jelas tinggi menara yang mencolok menarik siapa pun untuk mengunjungi bangunan dari dekat.

Menara Galata (Galata Kulesi dalam bahasa Turki) adalah salah satu menara tertinggi dan tertua di Istanbul. Menara setinggi 63 meter (206 kaki) ini memberikan pemandangan panorama 360 derajat ke seluruh kota. Tempat wisata bersejarah ini digadang-gadang dibangun pada abad ke-14 oleh koloni Genoa sebagai bagian dari tembok pertahanan yang mengelilingi distrik mereka di Galata, tepat di seberang Konstantinopolis kuno. Mereka menyebut menara itu sebagai “Christea Turris“, atau “Menara Kristus”. Orang Genoa terlibat dalam perdagangan dengan Bizantium dan menara itu digunakan untuk pengawasan pelabuhan di Tanduk Emas.

Menara Galata memiliki banyak kegunaan. Awalnya dibangun sebagai mercusuar di masa pemerintahan Bizantium, lalu beralih fungsi menjadi penjara bawah tanah ketika Ottoman menaklukkan Istanbul. Setelah penaklukan Konstantinopel oleh Ottoman yang dipimpin Sultan Mehmet II, menara ini juga berfungsi untuk pengingat yang mendeteksi jika ada kebakaran di kota. Dari abad ke-16 hingga 1960-an, tempat wisata bersejarah ini adalah menara api untuk mengirim sinyal atau pesan pada zaman dahulu. Ujung kerucut dibangun kembali dengan batu pada akhir 1960-an untuk memberikan sentuhan final pada bangunan.

Tempat wisata bersejarah ini sekarang memiliki fungsi yang jauh berbeda dibanding zaman dahulu. Di puncak Menara sekarang terdapat sebuah restoran serta klub malam yang menjadi tempat hiburan terkenal di kota. Pengunjung dapat berpindah-pindah ke lantai atas menara menggunakan lift. Di puncak paling atas, pengunjung dapat menikmati keindahan memandang seluruh kota dengan bebas.

5. Menyaksikan keindahan tersembunyi Basilica Cistern

Genangan air tawar yang nantinya akan difiltrasi untuk disalurkan ke penjuru kota.
Pilar-pilar kokoh sejak zaman Kekaisaran Romawi menopang Basilica Cistern.

Tempat wisata bersejarah satu ini bisa dibilang cukup unik. Keindahan tersembunyi yang dimiliki tempat ini memang tidak terlalu tampak di permukaan, alasannya karena bangunan ini mewarisi keindahan dan sejarah dari bawah tanah. Basilica Cistern atau dikenal dengan Sunken Cistern adalah salah satu sistem penadah air bawah tanah kuno terbesar di Istanbul.

Tempat penampungan air berukuran hampir sama dengan sebuah katedral ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justinian I pada tahun 532 M. Bahkan faktanya, Basilica Cistern memiliki danau air tawar buatan seukuran dua kali ukuran standar lapangan sepak bola. Guna bangunan ini adalah untuk memasok air ke Istana Agung pada saat kota masih bernama Konstantinopel, bangunan ini juga menyuplai air ke Istana Topkapi sejak pemerintahan Ottoman di tahun 1453. Tempat wisata bersejarah ini dulunya menyimpan hingga 80.000 meter kubik (2.800.000 kaki kubik) air yang dikirim melalui saluran air sepanjang 20 kilometer (12,4 mil) dari waduk dekat Laut Hitam.

Akses untuk pengunjung yang memudahkan kunjungan wisata ke Basilica Cistern.
Pengunjung yang sedang mengamati keunikan Basilica Cistern.

Ketika kaisar Bizantium pindah dari Istana Agung, Basilica Cistern pun dilupakan. Tetapi seorang sarjana dari Perancis, Peter Gyllius, menemukannya kembali pada tahun 1500-an setelah mendengar cerita penduduk setempat yang mengambil air tawar dan bahkan memancing dari lubang di ruang bawah tanah mereka.

Sumber mata air buatan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan sejak pertama kali dibangun. Salah satu perbaikan pertamanya terjadi pada abad ke-18 ketika Sultan Ahmed III berkuasa pada 1723.

Perbaikan terbesar kedua terjadi pada abad ke-19 ketika Sultan Abdulhamid II berkuasa. Pada tahun 1968, banyak kolom yang rusak dan retakan pasangan bata pun diperbaiki. Tempat wisata bersejarah ini mengalami lebih banyak perbaikan total pada tahun 1985. Selama proses ini, 50.000 ton lumpur berhasil dibersihkan. Akses juga dibangun sehingga orang dapat menjelajahi seluruh bawah tanah Basilica Cistern. Tempat wisata bersejarah ini pun resmi dibuka pada bulan September 1987 dengan kondisi yang sama persis sampai detik ini. Keren dan misterius, ya!

Begitu menarik dan mengedukasi pembahasan kali ini. Kira-kira aktivitas apa dulu ya yang jadi pilihan utama kalian ketika berkunjung ke Istanbul?