Negara Indonesia terdiri dari berbagai tempat wisata bersejarah dan merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat lokal maupun mancanegara. Keindahan yang dimiliki oleh Indonesia adalah mempunyai banyak bangunan bersejarah dan memiliki gaya desain arsitektur menarik. Bangunan bersejarah tersebut dibuat dengan tatanan arsitektur berdasarkan pada nilai historisnya.

Namun wisata bersejarah bukan sekedar dikunjungi saja, tetapi juga harus bisa mempelajari sejarah yang terdapat pada bangunan itu sendiri. Hal-hal lain yang harus diperhatikan ialah fasilitas dan kegiatan harus memenuhi kriteria tempat wisata, seperti makanan dan minuman, tempat ibadah serta toilet yang memadahi.

Meskipun banyak negara-negara lain yang mempunyai destinasi tempat bersejarah, Indonesia tidak kalah dengan negara lain, banyak tempat bersejarah disini yang harus dikunjungi oleh turis-turis mancanegara. Berdasarkan penjelasan yang ada, website tiket.com sudah merilis beberapa tempat bersejarah yang ada di Indonesia yang juga mendapatkan banyak kunjungan oleh turis lokal maupun turis mancanegara. Penasaran apa lagi destinasi wisata bersejarah di Indonesia yang menarik untuk dikunjungi? Simak artikel berikut ini!.

Danau Toba

Danau Toba merupakan destinasi wisata yang menarik dan bersejarah, tempat ini bisa menjadi salah satu tempat yang patut kamu kunjungi.
Photo by Dio Hasibuan on Unsplash

Danau Toba merupakan Danau yang terletak di Sumatra Utara, Danau tersebut merupakan keajaiban alam yang sangat bagus. Dulunya, Danau ini terbentuk karena letusan dahsyat sebuah gunung api, Gunung Toba yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu. Memiliki luas kurang lebih 1.145 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter, Danau ini lebih condong mirip dengan lautan daripada danau. Di tengah-tengah danau vulkanik besari ini juga terdapat sebuah pulau yang berukuran lumayan besar, yakni Pulau Samosir.

Danau Toba menjadi sebuah tempat bersejarah yang sangat cocok untuk bersantai, udaranya sejuk dan suasananya pun sangat tenang. Hal ini dikarenakan Danau Toba berada di 900 meter di atas permukaan laut. Selain keindahan Danau yang amat menakjubkan, Kamu akan disuguhkan dengan pemandangan deretan pegunungan serta pepohonan hijau yang sangat menyegarkan mata.

Berbagai aktivitas yang bisa dilakukan selama berada disana, antara lain menyewa sepeda motor untuk mengelilingi kawasan Pulau Samosir. Tidak lupa untuk mampir ke puncak, karena pemandangan sesungguhnya nampak terlihat kian indah saat dilihat dari ketinggian. Namun, ketika mampir ke Desa Tuktuk, Kamu bisa menikmati pulai ini dengan berjalan kaki dan menyusuri jalan-jalan desa yang sangat sejuk dan asri.

Di dekat Danau Toba terdapat dua museum yang kaya akan sejarah akan budaya Suku Batak, yakni Museum Tomok dan Museum Huta Bolon. Museum Tomok berupa rumah adat Batak Toba yang berusia ratusan tahun tetapi masih rapi, kuat dan terjaga historisnya. Sedangkan di Museum Huta Bolon, pesona akan lebih terkesima karena ukiran-ukiran serta ornamen khas Batak bernama goga menjadi bagian dari bangunan museum.

Banyak sekali cara untuk menikmati pemandangan alam Danau Toba, untuk Kamu yang menyukai wisata olahraga air, mengelilingi Danau Toba dengan menggunakan kayak menjadi hal yang wajib dicoba ketika berkunjung ke sini. Ada tiga rute yang bisa di ambil saat menjelajah Danau Toba dengan menggunakan kayak. Rute pertama yang bisa dibilang cukup mudah Tongging ke Silalahi sepanjang 12 km, rute kedua yang cukup menantang Tongging ke Samosir sekitar 50 km, rute ketiga sekaligus menjadi rute terakhir yang sangat sulit yakni Lingkaran Utara sejauh 175 km.

Hal lain yang bisa ditemui di kawasan Danau Toba, yakni boneka kayu berukuran manusia diberi nama Sigale-gale. Sigale-gale dikenal karena terdapat mitos yang melekat di dalamnya, masyarakat lokal percaya bahwa boneka Sigale-gale bisa menari dan meratap sendiri tanpa adanya iringan musik. Mereka juga berkata bahwa boneka Sigale-gale hanya bisa diletakkan di dalam peti, boneka ini biasanya digunakan dalam upacara kematian keluarga di daerah Samosir, karena masyarakat percaya bahwa tarian Sigale-gale akan mengantarkan roh mereka yang telah mati ke alam baka.

Bagi Kamu yang hendak mencari oleh-oleh, kain ulos merupakan oleh-oleh wajib saat berkunjung ke Danau Toba. Tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, ulos mempunyai makna sebagai simbol status sosial dan kerap dipakai di acara-acara penting, seperti kelahiran dan pernikahan. Selain itu, ada juga ukiran kayu asli dengan bentuk unik serta menarik dan bisa Kamu jadikan sebagai cenderamata. Untuk Kamu yang suka minim kopi, tidak lupa untuk membeli jenis-jenis kopi yang terkenal dari Danau Toba, seperti kopi lintong dan kopi sidikalang.

Taman Sari

Photo by Fuad Najib on Unsplash

Taman Sari merupakan Wisata Bersejarah yang terletak di wilayah Yogyakarta dan merupakan cagar budaya warisan Keraton yang masih dapat kita lihat berdiri gagah. Taman Sari ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubowono I pada tahun 1758, sampai saat ini istana Taman sari mengalami beberapa kali renovasi sehingga tampak menarik dengan tidak menghilangkan nilai historisnya. Terletak sekitar 300 meter dari Keraton Yogyakarta, Taman Sari mempunyai keindahan kolam yang dikelilingi benteng setinggi 6 meter. Zaman dahulu Taman Sari digunakan untuk mandi para istri-istri Sultan Hamengkubuwono X. Ditempat tersebut ada semacam menara yang digunakan untuk melihat dan mengamati istri-istri Sultan yang sedang mandi.

Ketika memasuki pintu gerbang, anda akan melihat gambar yang menceritakan keadaan Taman Sari pada zaman dahulu. Pada masa itu, dapat dilihat jelas bahwa dahulu Taman Sari mendapat kebun buah-buahan dan bisa di petik sultan tiap harinya. Buah-buahan seperti semangka, nanas dan mangga nampak begitu segar pada masa itu karena masih banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar wilayah Taman Sari. Kesegaran alam disana sudah tidak dapat kita temui lagi karena tempat tersebut sudah banyak didirikan pemukiman oleh penduduk setempat. Penduduk menempati wilayah sekitar Taman Sari Yogyakarta terdapat mitos bahwa mereka kerabat abdi dalem keraton yang sudah turun temurun.

Dibangun oleh Sultan setelah melakukan penandatanganan perjanjian Giyanti tahun 1755 dan sebelumnya pernah terjadi perpecahan diantara keluarga dalam keraton kemudian berakhir dengan pecahnya Mataram menjadi dua bagian. Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta, berdirinya Taman Sari mempunyai menentramkan hati, istirahat serta berekreasi dengan keluarganya. Selain itu, tempat ini juga dipersiapkan sebagai sarana untuk benteng pertahanan dalam menghadapi musuh. Bangunan ini mempunyai tipe arsitektur dari Portugis sehingga mempunyai corak bergaya seni Eropa, tetapi simbol Jawa yang ada disini nampak lebih dominan daripada corak luar negerinya.

Terdapat bagian yang merupakan bagian Sakral di Taman Sari berupa sebuah bangunan sedikit menyendiri dan dulunya digunakan oleh Sultan untuk semedhi atau pertapaan. Bagian kolam digunakan untuk membersihkan diri oleh Sultan dan terdiri dari dua kolam yang dipisahkan oleh bangunan bertingkat. Pancuran yang mengeluarkan air berbentuk bintang juga dihiasi oleh pot-pot besar. Ada juga lorong-lorong yang berada di bawah tanah antara lain Pulau Cemeti dan Sumur Gumulih.

Pulau Kenanga atau Cemeti merupakan bangunan tinggi dan digunakan untuk tempat beristirahat, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat pengintaian. Satu-satunya yang akan terlihat bilamana air dibuka kemudian air akan memenuhi kawasan Pulau Kenanga. Melihatnya dari atas, bangunan ini menyerupai bunga teratai berada tepat di bagian tengah kolam yang cukup besar.

Anda dapat menaiki menara Taman Sari dan nantinya bisa menikmati pemandangan dari atas, melihat pemandangan secara lega, mengamati kedua kolam pada bagian utara dan bagian selatan. Menara tersebut mempunyai jendela dengan jeruji yang terbuat dari kayu asli dan belum pernah diganti sejak pertama kali menara ini dibuat. Dari atas, anda juga dapat melihat rumah-rumah rakyat yang ada disekitarnya, rumah-rumah tersebut dulunya merupakan kebun-kebun buah tersebut.

Setelah melihat pemandangan dari atas, anda dapat kembali turun lalu menjelajahi bagian lain dari Taman Sari ini, seperti dapur yang bercorak kuno dan ada juga masjid kuno memiliki desain arsitek cukup unik. Masjid itu mempunyai dua lantai dan memiliki lantai yang berbentuk bulat. Di bagian tengah Masjid terdapat kolam kecil yang diatasnya sudah dibangun sebuah tangga melintang, ketika anda melihat tentu akan memiliki keindahan seni yang cukup tinggi.

Pada sisi utara terdapat bangunan kuno bertingkat dengan tempat datar diatasnya, dari tempat tersebut anda dapat melihat sejenak keindahan sekitar dan merasakan secara langsung menjadi Sultan. Tidak hanya itu, ditemukan pula terowongan dan dipercaya sebagai jalan pintas menuju laut selatan.

Lawang Sewu

Photo by Denissa Devy on Unsplash

Lawang Sewu merupakan salah satu landmark Kota Semarang yang dibangun pada tahun 1904, bangunan ini mempunyai arsitektur khas Belanda berusia lebih dari 100 tahun. Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai kantor pusat Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan kantor Djawatan Kereta Api RI dimanfaatkan sebagai objek pariwisata mulai tahun 2005, Lawang Sewu mengundang tingginya antusiasme wisatawan pada tahun 2018 mencapai ratusan ribu orang.

Berada di tepi Simpang Lima Semarang, Lawang Sewu berdampingan dengan Gereja Katedral Belanda, Museum Mandala Bhakti dan Wisma Perdamaian. Di tengah-tengah Taman Wilhelmina, tempat berdirinya Tugu Muda.

Memiliki tiga bangunan utama dengan gedung berbentuk huruf U, Lawang Sewu mempunyai daya tarik yang kuat dengan corak arsitektur khas Belanda. Bangunan utama yang ketiga tidak begitu besar sehingga cenderung berbentuk huruf L. Setiap pengunjung yang datang ke Jawa Tengah pasti akan menyempatkan mampir dan berfoto dengan latar jajaran pintu tanpa ujung ini. Kompleks bangunan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Lawang Sewu” karena jumlah pintu dan jendelanya sangat banyak, sedangkan jumlah sebenarnya yakni 928 pintu dan jendela. Jumlah pintu dan jendela tak lepas dari iklim Indonesia yang tropis berguna untuk memperlancar sirkulasi udara.

Dari segi arsitektur, mempunyai keunikan bahwa gedung ini dibangun tanpa menggunakan semen. Gedung ini dibangun menggunakan bligor atau pese, sebuah istilah lokal dari campuran pasir, kapur dan bata merah. Penggunaan bligor menjadi alasan tidak ada retakan satupun di Lawang Sewu. Bligor membuat bagian dalam ruang menjadi lebih sejuk. Kontruksinya tanpa menggunakan besi agar menghindari tekanan berat, memiliki atap berbentuk melengkung setengah lingkaran tiap setengah meternya untuk mengurangi tekanan. Struktur yang disusun miring seperti struktur jembatan.

Ada juga gedung bernama gedung B yang dibangun pada tahun 1916 menggunakan besi dan material lokal karena Perang Dunia I di Eropa. Saat melakukan pengiriman barang dari Belanda lambat kemudian pengiriman diprioritaskan menggunakan barang lokal. Bata, genting, kaca, hingga ubin, menggunakan buatan Semarang dan sekitarnya. Bangunan utama berisi diorama dan berbagai macam benda-benda bersejarah tentang kereta api indonesia. Pengunjung dapat melihat museum, galeri, serta peta-peta dan foto-foto zaman dulu . Diorama ini menjadi penggambaran Semarang sebagai pusat kereta terbesar di Indonesia dan jurusan kereta api pertama, Semarang ke Temanggung.

Salah satu lokasi favorit untuk berfoto saat berwisata adalah dinding kaca patri berukuran 9 meter. Kaca patri mozaik ini berada di dalam gedung utama, dan terbagi menjadi empat panel besar, dengan ini mencerminkan bahwa eksploitasi besar-besaran hasil alam Indonesia.

Pada panel tengah menuju ke bawah berjajar Dewi Fortuna dengan baju merah, roda bersayap lambang kereta api, dan juga Dewi Sri. Panel di atasnya adalah tumbuhan serta hewan yang menggambarkan Nusantara kaya akan hasil bumi. Ditambah simbol kota-kota dagang Batavia, Surabaya, dan Semarang. Sedangkan simbol kota-kota dagang Belanda, yakni Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag, berderet di panel kiri dan panel sebelah kanan menampilkan ratu-ratu Belanda.

Lawang Sewu dilengkapi dengan ruang bawah tanah. Pengunjung diperbolehkan ke ruang bawah tanah agar dapat mengetahui kecerdasan arsitektur zaman dulu. Lantai bawah tanah ini pernah menjadi penjara bagi para pahlawan. Di bawah tanah ini sering menghembuskan aura mistis tentang ruangan gedung. Fungsi sebenarnya dari ruang tersebut adalah sebagai drainase dan saluran air. Itulah mengapa ruang bawah tanah Lawang Sewu ini lembap, berlangit-langit rendah, dan gelap.

Baca Juga : https://traveladdict.xyz/fakta-unik-tentang-kereta-bebas-covid-19-italia/

Menara Syahbandar

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Konon, pada masa lalu, Pelabuhan kalimas mwerupakan tempat pusat kegiatan perniagaan yang sangat ramai. Di Kawasan ini, Sungai Kalimas disebut warga sebagai lokasi yang strategis dan lebar dan karena itulah menjadi salah satu alasan pelabuhan ini cukup ramai dan jaya, Pelabuhan Kalimas. Kebesarannya ini dapat terlihat dari masih berdiri dengan kokoh Menara Syahbandar yang terletak di Sungai Kalimas, tepat di belakang Jalan Panggung, yaitu di Jalan Kalimas Udik. 

Menara Syahbandar Kalimas yang memiliki logo”Soera Ing Baja” pada depan gedungnya  merupakan Menara yang dahulunya digunakan untuk akitivitas seorang syahbandar, yang biasa disebut sebagai kepala pelabuhan. Tugas pokok dari seorang kepala Pelabuhan yaitu melaksanakan pengawasan penuh lalu lintas kapal laut atas keamanan dan keselamatan pelayaran.

Pada masa Hindia Belanda bangunan ini digunakan untuk memantau dan mengontrol semua aktivitas kegiatan Pelabuhan seperti pergerakan kapal yang mendistribusikan barang, perdagangan, dan juga peredaran mata uang. Kawasan kalimas dahulu merupakan dermaga tempat berkumpulnya kapal-kapal dari berbagai daerah dan negara asing di Surabaya. Dengan dikenalnya Kawasan kalimas sebagai pelabuhan, banyak bekas bangunan disekitar situ yang dulunya dipakai untuk kegiatan kepelabuhan, termasuk Kawasan Jalan Panggung dan Pasar Pabean, hingga Kawasan Ampel.

Masjid Istiqlal

Photo by Mosquegrapher on Unsplash

Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, mempunyai cita cita besar untuk membangun sebuah masjid yang dapat menjadi sebuah tempat kebanggan warga Jakarta sekaligus tempat untuk beribadah sudah mengendap di hati warga Indonesia. KH. Wahid Hasyim, Mentri Agama RI pertama dan beberapa Ulama mengusulkan untuk mendirikan Masjid yang mampu menjadi simbol bagi Indonesia.

Penentuan lokasi Masjid wisata bersejarah ini sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung-kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun masjid ini sebagai salah satu wisata bersejarah di lahan bekas benteng Belanda. Karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam.

Selanjutnya pelaksanaan pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 sampai dengan 1965 tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, karena situasi politik yang kurang kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Dari tempat-tempat bersejarah tadi yang memberikan destinasi wisata luar biasa tadi, wilayah mana yang akan Kamu kunjungi nantinya?.